Pahlawan Nasional, Opu Daeng Risadju

 

Opu Daeng Risadju

Dalam sejarah perjuangan Indonesia, banyak nama besar yang dikenal karena keberanian mereka di medan perang. Namun, ada pula sosok-sosok yang mungkin tak sepopuler itu, tetapi memiliki api perjuangan yang sama menyala di dalam dada mereka. Salah satunya adalah Opu Daeng Risadju, perempuan tangguh dari Luwu, Sulawesi Selatan, yang berjuang bukan dengan senjata, melainkan dengan keberanian, keyakinan, dan semangat pantang menyerah melawan penjajahan.

Opu Daeng Risadju lahir pada tahun 1880 di Palopo, Sulawesi Selatan, dengan nama kecil Famajjah. Ia berasal dari keluarga bangsawan Kerajaan Luwu, sebuah kerajaan tua yang memiliki pengaruh kuat di wilayah Sulawesi. Namun, darah kebangsawanan tidak membuatnya hidup berjarak dari rakyat. Justru, ia tumbuh sebagai sosok yang sederhana, bijak, dan memiliki rasa tanggung jawab besar terhadap bangsanya. Sejak muda, ia sudah menunjukkan keberanian dan kepedulian sosial yang tinggi sesuatu yang kelak membentuk jalan perjuangannya.

Ketika semangat pergerakan nasional mulai bergema di berbagai daerah Nusantara, Opu Daeng Risadju ikut tergerak. Ia melihat ketidakadilan, penindasan, dan penderitaan rakyat di bawah kekuasaan kolonial Belanda. Dari sinilah, semangat perjuangannya tumbuh. Ia bergabung dalam organisasi Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), salah satu wadah perjuangan rakyat yang mengusung kemerdekaan dan keadilan sosial. Bersama suaminya dan para pemuda di Palopo, ia mendirikan cabang PSII pada 14 Januari 1930.

Langkah ini bukan hal kecil. Pada masa itu, perempuan jarang sekali terlibat langsung dalam organisasi politik, apalagi yang menentang kekuasaan kolonial. Namun, Opu Daeng Risadju mematahkan stereotip itu. Ia turun langsung ke lapangan, menggerakkan rakyat, menggalang kesadaran, dan menyebarkan semangat kebangsaan. Baginya, perjuangan tidak mengenal jenis kelamin. Setiap anak bangsa memiliki kewajiban moral untuk melawan ketidakadilan.

Namun, perjuangannya tidak tanpa konsekuensi. Pemerintah kolonial Belanda menilai gerakan yang dipimpinnya sebagai ancaman. Opu Daeng Risadju kemudian ditangkap dan dipenjara di Benteng Bone. Dalam penahanan, ia mengalami siksaan dan tekanan berat. Tetapi semangat juangnya tidak pernah padam. Di balik jeruji besi, ia tetap teguh memegang keyakinannya bahwa kemerdekaan adalah hak setiap manusia, dan tidak ada kekuatan apa pun yang dapat menghentikan gelombang perjuangan rakyat Indonesia.

Setelah masa tahanan yang panjang, Opu Daeng Risadju akhirnya dibebaskan. Ia kembali ke Palopo dan kemudian pindah ke Parepare untuk tinggal bersama anaknya. Dalam sisa hidupnya, ia memilih untuk hidup sederhana dan tenang. Namun, di balik ketenangan itu tersimpan kisah perjuangan yang luar biasa. Ia wafat pada 10 Februari 1964 di usia 84 tahun tanpa upacara kebesaran bangsawan, Opu Daeng Risadju hanya meninggalkan warisan keteguhan dan keberanian yang abadi bagi bangsa ini.

Kata-kata dari Opu Daeng Risadju yang melepaskan gelar kebangsawanannya hanya untuk terus bisa berjuang sangat memotivasi saya. Setiap perjuangan pasti ada pengorbanan, setiap pilihan akan selalu memiliki kosekuensi, berikut kata-kata Opu,


Pada akhirnya, perjuangan Opu Daeng Risadju tidak hanya dikenang sebagai kisah sejarah, tetapi juga sebagai pelajaran hidup. Ia menunjukkan bahwa menjadi pahlawan tidak selalu berarti mengangkat senjata di medan perang. Terkadang, menjadi pahlawan berarti berani bersuara di saat yang lain diam, berdiri tegak di saat yang lain takut, dan berjuang demi keadilan walau harus sendirian.

Opu Daeng Risadju ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2006, tepatnya melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 85/TK/2006 yang dikeluarkan pada 3 November 2006. 

Dalam konteks Hari Pahlawan 10 November 2025, kisah Opu Daeng Risadju mengajarkan kita arti sejati dari pengorbanan dan keteguhan hati. Ia adalah cerminan bahwa perempuan memiliki peran besar dalam perjuangan bangsa bahkan di masa yang penuh keterbatasan. Semangatnya tetap relevan di era modern ini, di mana perjuangan tidak lagi melawan penjajahan fisik, melainkan melawan ketidakadilan, kebodohan, korupsi, dan kemerosotan moral.

Hari ini, ketika kita mengenang jasa para pahlawan, mari kita ingat sosok-sosok seperti Opu Daeng Risadju.
Perempuan sederhana yang mengajarkan bahwa keberanian tidak selalu harus lantang, kadang, keberanian itu justru hidup dalam hati yang tak mau menyerah pada ketakutan.

Semoga semangat juangnya menginspirasi kita semua untuk menjadi “pahlawan masa kini” pahlawan yang berjuang lewat tindakan kecil, lewat kejujuran, kepedulian, dan cinta pada Indonesia.

Comments

Popular posts from this blog

Keadilan Runtuh oleh Uang

Antara Pahlawan dan Penjahat

Ma, Mengapa?