Antara Pahlawan dan Penjahat
Antara Pahlawan dan Penjahat
Karya Adinda Putri Aprilia
Ayah, aku pernah melihat anak perempuan berlari dengan bebas dan tersenyum gembira.
Namun, anak itu terjatuh, tergores, terluka lalu menangis.
Dan disaat yang bersamaan, anak itu mendapatkan uluran tangan oleh seseorang yang dia panggil Ayah.
Tangisnya seketika berhenti, saat ayahnya menggendong dan menghiburnya.
Ayah, tangis anak itu sudah berhenti, namun tangis di jiwanya abadi.
Ayah, aku berharap akan ada uluran tangan lembut dari seseorang yang aku panggil Ayah juga.
Namun, harapan hanya akan menjadi harapan, mustahil menjadi kenyataan.
Ayah, saat ku kecil aku menganggapmu pahlawan.
Menggendongku tinggi ke udara.
Kini, bahkan kau seakan-akan tak menoleh.
Seolah aku tidak pernah ada.
Dulu, kau genggam tanganku erat, menuntunku berjalan.
Sekarang kau sibuk dengan dunia barumu.
Melupakanku tanpa ragu.
Aku mencoba tetap bertahan, meski mentalku remuk perlahan.
Ayah, aku mulai membenci diriku sendiri.
Sebab aku mulai menganggapmu sebagai seorang penjahat.
Ayah, aku mulai membenci masa remajaku.
Karena diriku sekarang sudah mulai mengetahui segala hal.
Aku mulai mengetahui apa itu poligami.
Apa itu KDRT, dan hal lainnya.
Ayah, aku takut semakin besar.
Ayah aku takut mengetahui semua hal.
Ayah, hidup tanpa sosokmu itu berat.
Namun, aku tetap hidup dan terus bertahan demi Mamaku tercinta dan demi membuktikan bahwa aku bisa bertahan tanpa peran dirimu.

Comments
Post a Comment