Posts

Showing posts from November, 2025

Antara Pahlawan dan Penjahat

Image
      Antara Pahlawan dan Penjahat Karya Adinda Putri Aprilia Ayah, aku pernah melihat anak perempuan berlari dengan bebas dan tersenyum gembira. Namun, anak itu terjatuh, tergores, terluka lalu menangis. Dan disaat yang bersamaan, anak itu mendapatkan uluran tangan oleh seseorang yang dia panggil Ayah . Tangisnya seketika berhenti, saat ayahnya menggendong dan menghiburnya. Ayah, tangis anak itu sudah berhenti, namun tangis di jiwanya abadi. Ayah, aku berharap akan ada uluran tangan lembut dari seseorang yang aku panggil Ayah juga. Namun, harapan hanya akan menjadi harapan, mustahil menjadi kenyataan. Ayah, saat ku kecil aku menganggapmu pahlawan. Menggendongku tinggi ke udara. Kini, bahkan kau seakan-akan tak menoleh. Seolah aku tidak pernah ada. Dulu, kau genggam tanganku erat, menuntunku berjalan. Sekarang kau sibuk dengan dunia barumu. Melupakanku tanpa ragu. Aku mencoba tetap bertahan, meski mentalku remuk perlahan. Ayah, aku mulai membenci diriku sendiri. Sebab aku...

Keadilan Runtuh oleh Uang

Image
  Keadilan Runtuh oleh Uang Karya Adinda Putri Aprilia Wahai dewi Justitia Dewi hukum seluruh dunia Pernakah engkau melihat keadilan runtuh karena uang? Di negeri kami uang adalah segalanya. Katanya "uang tidak dibawa mati". Tapi bagaimana dengan kami? Yang terjerat oleh ekonomi yang sulit. Bagi negeri ini uang adalah segalanya, diatas moral, etika, bahkan kemanusiaan. Tak ada uang kami dianggap mati. Kami ini hanya rakyat kecil. Akan sampai ke orang-orang yang menggerakan. Keadilan di negeri ini, kami hanya bisa diam. Kami menunggu keajaiban datang ke tangan kecil kami.

Ma, Mengapa?

Image
Ma, Mengapa? Karya Adinda Putri Aprilia Ma, mengapa aku kehilangan sosok seorang ayah? Padahal ayah di sampingku, di sebelah kanan-kiriku. Ma, mengapa aku terus menangis jika mengingat kisah keluarga kita? Ma, mengapa aku masih belum menerima kenyataan jika ayah sudah menikah lagi? Ma, mengapa ketika ayah menikah lagi, malah aku yang berantakan? Ma, mengapa mama masih kuat? Padahal mama sedang diterjang badai besar! Badai yang ada orang yang akan bertahan. Jarang ada yang selamat dari badai itu. Mama bisa menjadi orang yang bertahan dari badai itu. Ma, mungkin saat ini kita belum bebas. Tapi akan tiba saatnya, aku menjadi kupu-kupu. Yang bersinar bagai mentari. Aku akan membawa mama terbang tinggi dan melihat prestasi besar kita. "Kita sudah berhasil bertahan"

Pahlawan Nasional, Opu Daeng Risadju

Image
  Opu Daeng Risadju Dalam sejarah perjuangan Indonesia, banyak nama besar yang dikenal karena keberanian mereka di medan perang. Namun, ada pula sosok-sosok yang mungkin tak sepopuler itu, tetapi memiliki api perjuangan yang sama menyala di dalam dada mereka. Salah satunya adalah Opu Daeng Risadju, perempuan tangguh dari Luwu, Sulawesi Selatan, yang berjuang bukan dengan senjata, melainkan dengan keberanian, keyakinan, dan semangat pantang menyerah melawan penjajahan. Opu Daeng Risadju lahir pada tahun 1880 di Palopo, Sulawesi Selatan, dengan nama kecil Famajjah. Ia berasal dari keluarga bangsawan Kerajaan Luwu, sebuah kerajaan tua yang memiliki pengaruh kuat di wilayah Sulawesi. Namun, darah kebangsawanan tidak membuatnya hidup berjarak dari rakyat. Justru, ia tumbuh sebagai sosok yang sederhana, bijak, dan memiliki rasa tanggung jawab besar terhadap bangsanya. Sejak muda, ia sudah menunjukkan keberanian dan kepedulian sosial yang tinggi sesuatu yang kelak membentuk jalan perjuang...

Pahlawan Nasional, Laksamana Malahayati

Image
Laksamana Malahayati Dalam sejarah panjang perjuangan Indonesia, nama Laksamana Malahayati menjadi bukti bahwa semangat kepahlawanan tidak mengenal batas gender. Di tengah dominasi laki-laki dalam dunia peperangan dan militer pada abad ke-16, sosok perempuan tangguh dari Aceh ini muncul sebagai laksamana laut pertama di Nusantara bahkan di dunia. Ia bukan hanya simbol keberanian, tetapi juga lambang kepemimpinan dan cinta tanah air yang luar biasa. Malahayati lahir sekitar tahun 1550 di Aceh Besar, dalam keluarga bangsawan yang dekat dengan pemerintahan Kesultanan Aceh Darussalam. Sejak muda, ia menunjukkan kecerdasan dan keteguhan hati. Ia menempuh pendidikan militer di akademi angkatan laut Ma’had Baitul Maqdis, tempat para calon perwira dilatih strategi perang, pelayaran, dan taktik pertahanan laut. Pendidikan inilah yang kelak menempanya menjadi sosok pemimpin tangguh yang dihormati kawan maupun lawan. Tragedi menimpa hidupnya ketika sang suami gugur dalam pertempuran melawan Portu...

Selamat Hari Pahlawan, Menyalakan Kembali Api Perjuangan di Era Modern

Image
Selamat Hari Pahlawan Hari ini, 10 November 2025, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Pahlawan, hari penuh makna yang mengingatkan kita pada keberanian, ketulusan, dan pengorbanan para pejuang bangsa. Tujuh puluh delapan tahun sudah berlalu sejak pertempuran heroik di Surabaya tahun 1945, namun semangat para pahlawan itu seolah tak pernah padam dalam jiwa bangsa Indonesia. Mereka berjuang tanpa pamrih, tanpa imbalan, hanya demi satu cita-cita: Indonesia yang merdeka, adil, dan berdaulat. Di setiap tetes keringat dan darah mereka, tersimpan pesan bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah, melainkan hasil dari tekad dan perjuangan tanpa henti. Mari kita tundukkan kepala sejenak, mengirimkan doa terbaik bagi para pahlawan yang telah mendahului kita. “Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih, terimalah segala amal bakti para pahlawan kami. Ampunilah dosa-dosa mereka, lapangkanlah kuburnya, dan tempatkanlah mereka di sisi-Mu yang paling mulia. Jadikanlah semangat juang mereka sebagai penerang...